Situ Lengkong Ciamis,
Nyari tempat wisata buat liburan hari Raya nanti, Ke Situ Lengkong Panjalu aja..
Tempat wisata ini lumayan dekat lohh jaraknya dengan kampung halaman Saya yang tepatnya di Panjalu, Ciamis Jawa Barat.
| Situ Lengkong Panjalu |
Puluhan peziarah sedang merapal tahlil dan doa. Mereka khusyuk duduk di depan makam Raden Adipati Hariang Kencana atau Sayyid Ali Bin Muhammad Bin Umar atau Mbah Panjalu. Lantunan doa peziarah menghalau kesunyian hutan Nusa Gede yang lebat. Sebuah makam penyebar Islam di tanah Sunda dengan kain penutup putih dan hijau yang dikelilingi pagar tembok berongga menjadi tujuan peziarah berkunjung ke Nusa Gede di tengah Situ Lengkong Panjalu Ciamis.
Situ Lengkong adalah sebuah danau kecil seluas 57,95 hektar di daerah Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Di tengah situ, Nusa Gede seluas 9,25 hektar seperti tertidur abadi dengan hamparan hutan lebat dan perawan selama berabad-abad. Kelebatan hutan Nusa Gede menjadi makam bersemayam abadinya Raja-raja Kerajaan Panjalu. Dulunya, Nusa Gede merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu.
![]() |
| Tangga menuju makam |
Hawa sejuk menerpa badan takala saya berada di dalam hutan Nusa Gede. Puluhan tangga yang harus dilewati tak terasa karena kesejukannya ibarat morfin penghalau lelah. Terlebih kicauan burung yang berasal dari pohon-pohon tinggi seperti menyemangati saya menuju pusara makam di tengah hutan.
“Assalamu’alaikum”. Saya dan sepupu saya mengucapkan salam kepada juru kunci makam dan para penghuni kubur. Saat itu, pengunjung makam hanyalah kami berempat. Kami duduk di sebelah selatan makam. Di depan kami ada tulisan doa dan tata cara ziarah. Kami pun mulai berdoa dengan dipimpin sepupu paling tua.
Setengah perjalanan kami berdoa, bangunan rumah berkeramik putih ini tiba-tiba ramai dengan puluhan peziarah. Sepertinya sama seperti kami, datang dari luar Sunda. Dari dialek bahasanya, mereka adalah peziarah dari Jawa Timur. Tanpa banyak komando, sang pemimpin rombongan langsung memimpin tahlil dan berdoa kepada Allah.
Makam Mbah Panjalu ini sontak gegap gempita dengan alunan doa. Saya sudah selesai. Tetapi antusiasme alunan peziarah membuat saya bergetar. Larut bersama mendoakan Wali Allah penyebar Islam di tanah Sunda dan ber-tawasul kepadanya.
Pengunjung memenuhi ruangan makam Mbah Panjalu.
Kerajaan Panjalu, Kerajaan Islam Sunda
Terjadinya Situ Lengkong Panjalu, tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Panjalu. Konon sekitar abad VII, hiduplah seorang raja Panjalu bernama Prabu Sanghyang Boros Ngora. Dia memimpin Panjalu dengan adil dan bijaksana sehingga sangat dicintai rakyatnya. Boros Ngora pada waktu itu beragama Hindu dan kerajaan Panjalu adalah kerajaan Hindu.
Suatu waktu, Boros Ngora berkelana dengan maksud mencari ilmu pengetahuan. Sampailah di sebuah tempat yang di sekitarnya terdiri dari bebatuan dan pasir. Rupanya tanah yang diinjaknya itu adalah tanah suci Mekkah. Di sanalah ia berguru kepada Sayyidina Ali r.a., yang dikenalnya sakti mandraguna. Prabu Sanghyang Boros Ngora pun menguasai ilmu sejati yakni agama Islam yang membawa pada keselamatan dunia dan akhirat.
Setelah itu, dia pulang membawa oleh-oleh dari sahabat Nabi berupa pakaian kehajian, pedang dan air zam-zam. Air zam-zam dibawanya dalam sebuah gayung yang permukaannya bolong-bolong pemberian ayahnya Prabu Sanghyang Cakra Dewa. Dengan izin Yang Maha Kuasa ia dapat membawa air zam-zam itu pulang ke tempat asalnya, Panjalu.
Setibanya di Panjalu, air zam-zam itu ditumpahkannya di sebuah tempat yaitu Lembah Pasir Jambu. Sampai saat ini diyakinilah bahwa Situ Lengkong Panjalu terjadi karena tumpahan air zam-zam yang dibawa Sanghyang Prabu Boros Ngora. Di tengah-tengah danau terdapat daratan yang dinamai Nusa Gede.
Keabadian hutan di Nusa Gede. Tak terjamah.
Sejak saat itu, Sanghyang Prabu Boros Ngora mengislamkan kerajaan Panjalu. Dia menyebarkan agama Islam kepada rakyatnya. Kemudian, dia turun tahta dan digantikan putranya yaitu Hariang Kencana. Prabu Hariang Kencana lalu meneruskan syiar Islam seperti yang dilakukan oleh ayahnya. Hasilnya agama Islam berkembang kian luas di Panjalu dan sekitarnya, tanah Sunda.
Prabu Harian Kencana arif dan bijaksana memerintah Panjalu sampai wafat dan dimakamkan di Nusa Gede, di tengah Situ Lengkong. Adapun Boros Ngora adalah sosok yang selalu ingin berkelana sehingga sampai wafatpun tak diketahui di mana dia meninggal dan di mana pula ia dimakamkan. Tak satu orangpun tahu dimana letak makam Boros Ngora. Ini sesuai dengan amanat sewaktu dia masih hidup. “Siapa saja putra dan para cucuku kelak tidak usah tahu di mana aku dikubur”.
Saat ini, selain makam, peninggalan Kerajaan Panjalu bisa ditemui di Bumi Alit Panjalu, yaitu sejenis museum tempat menyimpan benda bersejarah peninggalan Panjalu. Di Bumi Alit ini, bisa ditemui pedang pusaka yang diberikan Sayyidina Ali r.a kepada Prabu Sanghyang Boros Ngora. Terdapat juga pusaka lain seperti cis semacam dwisula, keris, kujang, dll. Letak Bumi Alit dari Situ Lengkong Panjalu hanya berjarak sekitar 500 meter saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar